FURAB itu keliatannya cuma gabungan nama. Simpel, bahkan agak receh kalau dilihat orang luar. Cuma beberapa huruf yang diseret-seret biar jadi satu kata. Tapi ya itu, manusia tuh jago banget ngasih makna ke hal kecil, sampe akhirnya yang kecil itu jadi sesuatu yang nggak kecil lagi. Awalnya dua orang ini ya cuma dua nama biasa. Berdiri sendiri, punya hidup masing-masing, cerita masing-masing, mungkin bahkan dulu nggak saling kenal. Tapi entah gimana, di satu titik, hidup mereka nyambung. Pelan-pelan, nggak langsung dramatis kayak film, tapi cukup buat bikin dua dunia yang beda ini mulai saling masuk. Terus muncullah FURAB. Bukan sekadar singkatan, tapi kayak tanda kalau mereka udah sampai di fase di mana “gue” dan “lo” mulai berubah jadi “kita”. Dan yang bikin aneh tapi indah tuh… nama itu jadi kebiasaan. Disebut orang lain, dipakai bercanda, mungkin ditulis di caption, atau cuma jadi panggilan iseng. Tapi lama-lama, itu bukan cuma panggilan lagi. Itu jadi representasi dari semua hal yang mereka lewatin bareng.
Setiap huruf di FURAB tuh kayak nyimpen potongan kecil dari hubungan mereka. Ketawa receh yang nggak penting tapi diulang-ulang. Obrolan tengah malam yang nggak jelas ujungnya. Salah paham yang bikin diem-dieman. Terus baikan lagi, seolah nggak pernah ada apa-apa. Orang lain mungkin cuma lihat hasilnya: “oh, couple name.” Padahal yang disatuin itu bukan cuma nama, tapi dua kepala, dua hati, dua cara mikir yang kadang nggak sejalan tapi tetap dipaksa buat ketemu di tengah. FURAB juga kayak bukti kecil kalau seseorang akhirnya nemu tempat buat pulang, tapi bukan dalam bentuk tempat, melainkan orang. Dan dari semua kemungkinan di dunia yang luas banget ini, mereka milih satu sama lain. Itu aja sebenernya udah gila sih kalau dipikir-pikir. Kadang juga, tanpa sadar, nama itu jadi harapan. Harapan supaya apapun yang mereka punya sekarang nggak cuma sementara. Supaya “FURAB” nggak cuma jadi kenangan yang nanti diceritain dengan nada “dulu pernah ada”. Makanya walaupun keliatannya sepele, orang bakal jagain itu nama. Karena di situ ada perasaan yang nggak bisa dijelasin cuma pakai kata “pacaran” doang. Lebay? Iya.
Tapi justru di situ letak manisnya